Ideosource Venture Capital Targetkan Investasi ke 5 Startup Baru

0

Ideosource Venture Capital membidik setidaknya 5 perusahaan rintisan baru untuk masuk ke dalam portfolio investasinya, dengan rencana alokasi investasi berkisar Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar per perusahaan untuk tahap awal atau pre-Seri A.

Managing Partner Ideosource Venture Capital Edward Ismawan Chamdani menyatakan sejauh ini, perusahaan yang juga berinvestasi di sektor perfilman melalui Ideosource Entertainment ini telah berinvestasi ke lebih dari 30 perusahaan rintisan di Indonesia.

“Kalau semester dua ini, kami (investasi) film udah pasti, tetapi untuk startup, kami lagi lihat arahnya ke perusahaan konvensional yang volumenya besar tetapi masih punya kesempatan untuk didisrupsi dengan teknologi, dalam artian belum efisien,” ujarnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Dalam hal tersebut, dia menyebut sejumlah sektor yang cukup potensial seperti pengolahan  limbah, agrobisnis, energi terbarukan, dan lainnya.

Tim di perusahannya pun telah melakukan riset mengenai ekosistem industri tersebut selama 6 hingga 9 bulan terakhir.

Menurutnya, perusahaan rintisan non-teknologi juga memiliki peluang yang cukup menjanjikan untuk disuntik investasi.

“Mungkin akan lebih cepat kalau masuk ke perusahaan kovensional, tetapi traction tetap harus cepat, sourcing dan yang lain juga harus ada, apakah equity, atau bridging finance,”ujarnya.

Sementara itu, Senior Associate Golden Gate Ventures Jeffrey Chua menyatakan telah mengantongi tiga kesepakatan pendanaan dengan perusahaan rintisan Indonesia. kesepakatan itu akan diumumkan pada semester II/2019.

Golden Gate Ventures merupakan perusahaan pen-danaan tahap awal di Asia Tenggara yang berdiri sejak 2011.

Chua menyatakan sebanyak 33% dari dana investasinya mengalir ke perusahaan rintisan Indonesia, diikuti oleh Singapura, Vietnam dan Thailand. Pihaknya juga tengah menjajaki pasar baru seperti Bangladesh dan Myanmar.

“Setelah memimpin pendanaan pada Ritase, kami telah mengantongi tiga kesepakatan pendaanaan baru dengan perusahaan rintisan Indonesia yang akan diumumkan dalam waktu dekat,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menyebut beberapa sektor yang cukup potensial untuk investasi, antara lain teknologi agribisnis, online touring, pembiayaan kredit mobil, dan lainnya.

Selain itu, perusahaannya juga fokus membidik perusahaan rintisan yang mendukung aktivitas masyarakat kelas menengah di Asia Tenggara, atau perusahaan yang berhubungan dengan mobile internet, mengingat regional tersebut menawarkan pasar mobile internet yang cukup besar.

 

Source : Bisnis.com

Writer : Deandra Syarizka

Andi Boediman : Pemasaran Sebagai Faktor Sukses Sebuah Film

0

Pada 2011, Andi Surja Boediman mendirikan Ideosource Venture Capital dengan dana kelolaan mencapai 15 juta dolar Amerika. Awalnya, perusahaan ini menginvestasikan uangnya di start-up teknologi. Tercatat ada 27 perusahaan start-up mulai dari e-commerce, digital media, games, IoT (internet of things) yang mendapat kucuran dana dari Ideosource. Sejak tahun 2017, Ideosource mulai merambah dunia film dan menyalurkan investasinya melalui Ideosource Film Fund (IFF).

“Saya pernah belajar film di Amerika tapi cuma sebentar. Saat itu dunianya belum berkembang semenarik sekarang. Selain itu, saya memiliki lembaga pendidikan, IDS, yang ada jurusan filmnya. Jadi, hubungan dengan industri film tidak ada tetapi masih dekat kaitannya,” terang Andi yang kini menjabat sebagai Managing Partner Ideosource Venture Capital.

Keinginan masuk ke dunia film muncul setelah ia menemukan banyak film Indonesia yang bagus dan menarik seperti Cek Toko Sebelah, Kartini dan sebagainya. Ketertarikan ini mendorong Andi berinvestasi di dunia film. Namun, ia menilai jika berinvestasi hanya pada satu film risikonya cukup besar sehingga ia memutuskan untuk melakukannya secara ‘borongan’.

“Jika berinvestasi pada sepuluh, practically tidak ada risikonya. Itu sebabnya saya putuskan untuk- masuk investasi ke beberapa (film),” lanjutnya.

Menurut perhitungannya di tahun 2017, dari 120 film Indonesia yang beredar, ada 11 film yang- ditonton lebih dari 1 juta penonton. Dengan harga jual tiket Rp35 ribu, maka pendapatan total Rp35 miliar. Produser berhak mendapat separuhnya atau sekitar Rp17 miliar.

“Itu adalah angka industri. Jadi, jika saya berinvestasi satu per satu lebih berisiko tetapi kalau saya berinvestasi secara portofolio, risiko jauh berkurang. Probabilitasnya 1 dibanding 11, dimana akan ada 1 film (dari 10 film) dengan 1 juta penonton,” imbuhnya.

Dalam memutuskan investasi, Andi memiliki beberapa kriteria. Pertama, ia melihat rekam jejak produser dan sutradaranya. Rumah produksinya sudah pernah mengeluarkan karya-karya apa saja. Rekam jejak ini penting untuk keberhasilan investasinya.

“Setelah itu, saya melihat dari segi proyeknya. Film itu dilihat dari paketnya. Apakah dia menggunakan Intellectual property, cast, story yang bagus, dan revenue model make sense, kita jadi tertarik. Kalau di depan, itunya saja tidak menarik, ya, bagaimana kita bisa tertarik,” cetusnya.

Sejauh ini, IFF telah menginvestasikan dananya pada beberapa film seperti Ayat-ayat Cinta 2 (2017), Kulari Ke Pantai (2018), dan beberapa lainnya yang masih dalam penggarapan seperti Aruna & Lidahnya, Keluarga Cemara dan Lagi-lagi Ateng yang akan beredar tahun depan.

Sebagai investor, Andi optimis industri film Indonesia akan terus tumbuh dan berkontribusi kepada sektor ekonomi kreatif. Ia melihat berbagai sektor penting pendukung ekosistem industri film terus bertumbuh.

“Saya melihat jumlah layar di Indonesia bertumbuh sekitar 17 persen setahun. Dari sisi market share, angka itu akan bertumbuh sampai sekitar 10 tahun mendatang.

Tahun lalu, market share film Indonesia mencapai 35 persen. Dari segi OTT (Over-the-top media services/layanan konten mengalir seperti Hooq, iFlix, Genflix dan Mox), sedang tumbuh 19 persen per tahun. Jadi, dari akumulasi dari dua sektor ini dunia perfilman di Indonesia menjadi sangat menarik (bagi investor),” terangnya.

Walau optimis akan perkembangan dan pertumbuhan industri film Indonesia, Andi merasa ada beberapa hal yang perlu dibenahi agar industri ini tumbuh lebih kencang. Salah satunya adalah mengubah mindset para filmmaker mengenai pentingnya marketing.

Dari segi produk, para filmmaker sudah bagus tapi dari segi bisnis masih sangat lemah. Konsep mereka masih membangun produk, bukan membangun intelectual property. Masih banyak filmmaker yang mengabaikan marketing dan melihatnya hanya sebagai pelengkap. Dana besar habis digunakan untuk produksi, mereka tidak berani spending untuk marketing. Film jadi, baru mereka pikirkan soal marketing. Padahal, seharusnya marketing sudah dimulai bahkan sebelum film dibuat.

Andi menambahkan, agar industri film berkembang lebih cepat seorang filmmaker tak perlu mengerjakan semua. Pasalnya, mereka, tidak memiliki skillset yang membuat industri konsisten.

“Harus ada kolaborasi antara rumah produksi dengan orang bisnis. Kalau film ingin dijadikan industri, jangan hanya mengandalkan hati dan passion. Kalau begitu, yang sering terjadi adalah buat film bagus tetapi tidak ditonton banyak orang. Kalau seperti itu, ya untuk apa? Bukannya lebih baik produksi film bagus dan ditonton orang?” ujarnya.

Dengan adanya campur tangan orang bisnis, berbagai faktor di luar kreativitas film termasuk pendanaan film, bisa ditangani lebih baik.

Ia khawatir, jika tidak didukung dengan sistem pendanaan yang baik dan campur tangan orang bisnis, industri film tidak akan sustainable (bertahan lama) dan tidak berkembang.

Andi menambahkan, pendapatan film tidak bisa hanya mengandalkan pada penjualan tiket tetapi juga perlu menggali sumber lain seperti sponsor, hak menjual konten ke OTT dan free-to-air tv. Dengan cara ini, risiko bisa di-secure terlebih dahulu

Sebagai investor, Andi sangat mendukung kehadiran Akatara, forum yang diinisiasi Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), guna menghubungkan para filmmaker dengan investor. Andi mengaku sangat terbantu dengan adanya lembaga ini. Dari sana ia menemukan proyek film yang potensial yang bisa didanai.

“Sebelum Akatara terbentuk, saya sengaja membuat event dengan Bekraf yang mengundang beberapa investor untuk menjelaskan risiko dan potensi industri film. Jadi, bukan mengundang filmmaker-nya. Baru di forum Akatara, saya mengundang filmmaker untuk dicari barang mana yang bagus. So far, ini sudah berjalan dengan bagus. Akatara saya manfaatkan untuk memilih film yang layak untuk diinvestasikan,” ujarnya.

Source               : kompas.com

Writer               : Adv. Kompas

Ideosource siapkan Rp 100 miliar untuk Pendanaan Film Indonesia

0

KONTAN.CO.ID – NUSA DUA. Perusahaan modal ventura Ideosource memiliki ketertarikan untuk berinvestasi di industri film. Targetnya hingga akhir tahun, modal ventura ingin berinvestasi di 10 film  Indonesia.

“Oleh sebab itu kita menyiapkan pendanaan Rp 50 miliar sampai 100 miliar. Film terdekat yang kami investasi adalah Kulari ke Pantai yang di sutradarai oleh Mira Lesmana. Juga di akhir tahun bakal tayang Keluarga Cemara,” ujar Managing Partner Ideosource Andi S. Boediman pada sela-sela 1st Nexticorn International Summit 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (10/5).

Andi bilang, Ia melihat industri film di Indonesia tumbuh 25% (yoy) pada 2017. Nilai pasar film Indonesia kata Andi mencapai Rp 1,5 triliun. Sedangkan pertumbuhan layanan over the top (ott) mencapai 19% (yoy).

Menurut Andi, angka ini akan terus tumbuh 3 kali lipat dalam 10 tahun berikutnya. Bahkan dia mengaku bahwa Ideosource telah melakukan co-funding dengan GOJEK dalam pendanaan film.

Andi pun membeberkan hitung-hitungan bisnis film di Indonesia. “Pasar Film Indonesia itu Rp 1,5 triliun dari 41 juta tiket untuk 120 film. Satu film rata-rata mendapatkan Rp 12,5 miliar revenue dengan 350.000 penonton,” ujar Andi.

Pemasukan tersebut dibagi dua dengan pihak distributor atau bioskop sehingga produser mendapatkan revenue Rp 6,7 miliar. “Nah kalau kita ingin untung 30% maka bujet dari produksi rata-rata sekitar Rp 4 miliar-Rp 5 miliar sudah termasuk produksi dan promosi,” pungkas Andi.

Andi mengaku akan memilih film yang diinvestasi berdasarkan genre serta kualitas produser dan sutradara. Berbicara genre, Andi berkaca pada 150 film top di 10 tahun terakhir.

Adapun urutan film yang lagi populer adalah 55 film komedi, 41 film drama, 44 film horor, 20 film drama muslim. Setelah itu asa sejarah, nusantara seperti Laskar Pelangi. Lalu film anak, thriller, dan action. Pada genre terakhir, kata Andi bilang masih sedikit karena biaya produksinya besar dan butuh waktu yang lama.

“Saya akan lakukan beberapa strategi. Pertama kita akan berinvestasi di drama, horor, komedi, dan drama muslim. Belakangan saya akan menambah di film anak dan action,” tutup Andi.

Source     : Industri.kontan.co.id

Writer     : Maizal Walfajri

Ideosource sudah kucurkan pendanaan US$ 15 juta ke start up Indonesia

0

KONTAN.CO.ID – NUSA DUA. Perusahaan modal ventura Ideosource telah mendanai start up Indonesia senilai US$ 15 juta sejak tahun 2014. dana tersebut dikumpulkan melalui pendanaan tahap pertama sebanyak US$ 5 juta. Sedangkan US$ 10 juta dikumpulkan secara terpisah setiap ada peluang start up yang siap diinvestasi.

“Saat ini kami fokus pada likuiditas portofolio. Tantangan terbesar kita itu bukan investasi lagi tapi juga bagaimana start up kami mendapatkan likuiditas. Tahun lalu start up kami M Cash sudah go publik. Jadi kita ingin membantu perusahaan yang lain lakukan hal yang sama,” ujar “Managing Partner Ideosource Andi S. Boediman pada Kamis (10/5).

Meskipun mengikuti 1st Nexticorn International Summit 2018 di Nusa Dua Bali, Andi tidak fokus mencari start up untuk diinvestasi. Padahal acara ini ditujukan untuk mempertemukan antara investor dengan 70 start up. Andi bilang pihaknya lebih mengincar networking dan update mengenai perkembangan bisnis start up.

“Hari ini prioritas kita adalah start up mencapai likuiditas. Kalau tidak akan mentok untuk berkembang sebab sumber daya yang tidak terbatas itu yang belum terjadi. Salah satunya melalui likuiditas,” tutur Andi.

Biasanya Ideosource memberikan pendanaan pada tahap awal (Seed Funding). Saat melakukan pendanaan tahap ini, Andi melihat dua faktor penentu yakni founder dan solusi dari masalah yang diselesaikan.

Namun, Andi bilang Ideosource kini mulai memberikan pendanaan tahap series A dan B. Nah, pada tahap ini, Ideosource akan melihat dari pembuktian dari model bisnis, kemungkinan untuk berkembang. Ambil contoh, Bhinneka yang sudah empat kali diinvestasi oleh Ideosource.

Sebelumnya, Ideosource membidik vertikal e-commerce, digital media, travel untuk diinvestasi “Artinya kita akan berinvestasi di depan kurva tren yang sedang terjadi. Misalnya kita lihat tren yang berkembang adalah supply chain big data, ciber security,” pungkas Andi.

Selain itu, Ideosource mulai melirik berbagai vertikal yang memiliki dampak sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan agrikultural.

Source    : keuangan.kontan.co.id

Writer    : Maizal Walfajri

20 Tahun Reformasi: Tapak Tilas Sejarah Startup Indonesia

0

TEMPO.CO, Jakarta – Dalam kurun waktu 20 tahun reformasi, startup atau perusahaan rintisan digital tampil sebagai model bisnis dengan nilai investasi yang menjanjikan. Hasil riset Google bersama A.T. Kearney pada September 2017 menyebutkan nilai investasi startup digital menyentuh Rp 40 triliun di kuartal I 2017.

Nilai itu mengungguli investasi sektor lain seperti makanan dan minuman, Rp 37 triliun; kelistrikan, gas dan air Rp 36 triliun; serta baja, mesin dan elektronik Rp 33 triliun.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengisahkan, terbentuknya ekosistem investasi startup digital Indonesia sedikit terpengaruh fenomena bubble dot-com medio 1998-2000.  Dot.com adalah sebutan untuk perusahaan-perusahaan berbasis internet.

Namun, Edward mengatakan demam dot-com tidak begitu tinggi di Indonesia. Selain itu, menurut perhitungan Edward, hanya ada satu modal ventura yang lahir. Akibatnya, perusahaan dot-com yang terlanjur berdiri hanya bisa mengharapkan investor individu atau mencari modal ke luar negeri. “Di Indonesia memang cuma sebentar,” ujar Edward kepada Tempo, Senin, 14 Mei 2018.

Menurut Edward, titik awal terbentuknya ekosistem investasi startup digital mulai sejak 2010. Bermula East Ventures mengguyur Tokopedia dengan dana segar. Tahun yang sama, PT Telekomunikasi Indonesia menyuntikkan modal ke Plasa.com–sekarang Blanja.com.

Setelahnya, beberapa perusahaan modal ventura muncul, seperti Ideosource milik Edward, berdiri tahun 2011. Ekosistem investasi startup digital Indonesia dapat disebut matang pada tahun 2014. Perusahaan asal Singapura, Northstar Group, menanamkan modal ke Gojek, startup yang kini merupakan satu dari empat unicorn atau memiliki valuasi US$ 1 miliar di Indonesia.

Sejak itu, modal ventura dan startup digital melaju pesat secara bersamaan. Sebagai contoh, sejak mendapat lisensi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2017, Ideosource telah berinvestasi di 20 startup. “Potensi perkembangan startup sangat bagus dengan ekosistem saat ini,” kata Edward.

Center for Human Genetic Research (CHGR) mencatat, startup di Indonesia tahun 2016 kurang-lebih berjumlah 2.000. CHGR memprediksi angka tersebut naik 6,5 kali lipat pada tahun 2020. Situs  www.startupranking.com  menyebutkan, startup di Indonesia tahun 2018 berjumlah 1,807. Indonesia menempati peringkat ke-6 sebagai negara dengan startup terbanyak di dunia, sekaligus pemuncak di level Asia Tenggara.

Secara statistik, CEO Go-Jek Nadiem Anwar Makarim mengatakan, 90 persen dari jumlah itu bakal tumbang. Nadiem yang mengaku tiga kali gagal sebelum mendirikan Go-Jek itu mengatakan, minimnya peluang keberhasilan harus diterima oleh calon founder. “Untuk jadi founder, harus cukup ‘gila’ untuk menerima tantangan itu,” kata Nadiem, Selasa, 15 Mei 2018.

Nadiem menuturkan, tingginya pertumbuhan pemain startup digital sejalan dengan besarnya peluang investasi. Nadiem memperkirakan, dalam 5-10 tahun ke depan arus investasi bisnis digital sangat besar.

Desember 2017, Google dan Temasek merilis hasil riset mengenai investasi usaha startup digital di Asia Tenggara. Dari tahun 2016 hingga kuartal III 2017, jumlah investasi ke startup digital Asia Tenggara mencapai US$ 12 miliar. Dari total dana itu, sebanyak 34 persen atau US$ 4,08 miliar atau setara Rp 55 triliun masuk ke Indonesia.

Chief Executive KIBAR Yansen Kamto menyatakan saat ini merupakan momen terbaik untuk startup digital. Semua kebutuhan, mulai dari konektivitas internet, user dan investor telah tersedia. Terlebih, kehadiran wadah seperti inkubator dan coworking space atau ruang kerja bersama semakin memudahkan. “Tinggal bagaimana anak muda mau memulai,” kata Yansen, Rabu, 16 Mei 2018.

Menurut Yansen, calon industri terfavorit bagi calon founder startup digital adalah agrikultur, pariwisata, kesehatan, logistik, pendidikan dan energi. Yansen mengatakan, enam sektor itu punya banyak masalah yang perlu dicari solusinya melalui inovasi.

Source   : 20 Tahun Reformasi: Tapak Tilas Sejarah Startup Indonesia

Writer  : M Yusuf Manurung, Andi Ibnu, Jenny Wirahadi, PDAT TEMPO 

Bhinneka.com Berdaya setelah Nyaris Lumpuh

0

PADA 1998–1999, bisnis PT Bhinneka Mentari Dimensi nyaris lumpuh. Jumlah karyawan yang-semula mencapai 129 orang tinggal tersisa 24 orang. Itu adalah tahun krisis yang kemudian ditangkap Nicholas Tio dan Hendrik Tio sebagai peluang. Mereka awalnya melihat ada tren belanja online yang sedang hit di Amerika. Maka lahirlah situs Bhinneka.com yang masih berupa profil perusahaan, yang disetujui untuk dijadikan model online store.

Awalnya, PT Bhinneka Mentari Dimensi berdiri pada 1993. Perusahan ini memang bergerak di- bidang distribusi dan penjualan produk – produk teknologi informasi sebagai inti bisnisnya, seperti PC build up dan PC compatible, periferal, jaringan (LAN/WAN), solusi video editing hingga pusat servis.

Dari sinilah awal mula kisah sukses Hendrik Tio bermula. Karena kesulitan dalam penjualan dan krisis ekonomi di Indonesia, PT Bhinneka Mentari Dimensi mulai mencoba model bisnis yang-baru. Model bisnis baru ini menggunakan internet sebagai channel untuk berjualan.

Awalnya, Bhinneka belum menjual gadget. Kala itu, jualan Bhinneka fokus pada spare part komputer sebab saat itu sedang marak bisnis merakit komputer. Kini Bhinneka telah bekerja sama dengan 9.000 vendor yang terdiri atas 28 kategori produk dan 115 ribu produk.

Bhinneka menyediakan platform dengan dua jenis. Pertama, platform yang dapat digunakan semua customer. Pada platform ini customer hanya tahu Bhinneka.com.

Fokus B to B
Platform yang kedua ialah platform yang disediakan khusus oleh Bhinneka atas permintaan dari perusahaan. Pada platform ini, perusahaan dapat melihat semua vendor. Bhinneka mulai fokus menggarap skema bisnis business to business (B to B), dengan memberikan penawaran khusus pada klien perusahaan. Misalnya perusahaan besar biasa membayar 3 hari sampai 5 hari kerja.

Pengalihan fokus dari business to customer (B to C) menjadi B to B untuk melihat peluang baru. Hal ini lantaran kompetisi B to C sudah sangat ketat dengan adanya perang diskon, gratis ongkos kirim, dll. Bhinneka ingin mengakuisisi customer sebanyak-banyaknya, ingin memperbanyak produk. Misalnya ingin masuk ke produk alat bor dan perkakas lainnya seperti Ace Hardware. Selain itu, Bhinneka akan menambah mitra vendor. Penambahan ini tentunya dengan melakukan kurasi terlebih dahulu oleh tim Merchant Group. (*/H-5)

 

Source : http://mediaindonesia.com

Writer :  Merchant Group

Menilik Tren Investasi di Film

0

DUKUNGAN bagi industri startup Indonesia mulai besar dari banyak pihak yang membuka inkubator. Fasilitas inkubator bagi startup dinilai bakal mendorong pengembangan industri itu menjadi lebih baik dan punya ruang gerak lebih besar. Saat ini, fasilitas inkubator bagi startup telah dibangun pihak swasta, termasuk pemaparan beberapa program periodik yang membantu bibit startup diselenggarakan inkubator-inkubator tersebut. Namun, sayangnya, demam pembangunan inkubator yang menjangkiti banyak pihak itu tidak menarik minat venture capital. Hal itu diungkapkan langsung oleh Andi Surja Budiman, Managing Partner Ideosource Venture Capital.

Meski begitu, ia menyatakan tak menafikan pentingnya kehadiran inkubator bagi industri startup di Indonesia; berkolaborasi dan menciptakan dampak untuk entrepreneur Indonesia. Andi yang mengawali bisnis permodalan sejak 2011 langsung menggandeng delapan startup. Dengan keyakinan Andi akan keberhasilan pada bisnis permodalan ini, Ideosource terus melebarkan kiprahnya ke 27 perusahaan startup, di antaranya di bidang gim, media, dan e-commerce.

Seiring dengan pengalaman berinvestasi, Ideosource semakin jeli melihat startup yang memiliki tingkat perkembangan yang cukup prospektif. Berkat dasar itulah investasi yang dilakukan Ideosource mendanai startup dengan valuasi pertumbuhan yang sangat baik. Salah satunya perusahaan e-commerce seperti Bhinneka.com.

Bhinneka banyak mendapatkan saran dan masukan positif secara manajemen. Hal itu menjadikan Bhinneka.com mampu bersaing, baik di lokal maupun global. Perusahan yang awalnya bergerak di bidang distribusi dan penjualan produk-produk teknologi informasi seperti PC build up dan PC compatible, periferal jaringan atau LAN, dan solusi video editing hingga pusat servis terus menjelma menjadi bisnis online terkemuka di Indonesia.

Akhir 2017, Andi S Budiman bersama Ideosource miliknya pun melebarkan sayap bisnis dengan memulai berkolaborasi di bidang perfilman Indonesia. Salah satunya serial drama televisi Keluarga Cemara yang populer diera 90-an yang akan kembali hadir dalam format layar lebar di pertengahan 2018 ini. Sebagai venture capital, Ideosource tak hanya mendanai startup, tapi juga mendanai film Indonesia.

Kesamaan Visi
Film karya produser Anggia Kharisma dari rumah produksi Visinema Pictures yang bekerja sama dengan Ideosource Film Fund dilatari kesamaan visi. Hal itu membuat keduanya sepakat memproduksi ulang film atau remake dariserial drama Keluarga Cemara yang diadaptasi dari serial televisi.

Dengan mengusung nilai-nilai luhur dalam keluarga modern, nantinya film itu dirasa penting dan menjadi relevan dengan situasi masa kini. Film yang disutradarai Yandy Laurens dengan Ringgo Agus dan Nirina Zubir sebaga pemeran tokoh Abah dan Emak, film ini akan menambah daftar film keluarga Indonesia.

Selain narasumber Anggia Kharisma, Nirina Zubir, Ringgo Agus, dan founder Ideosource Andi- Surja Boediman, Big Circle episode 47 juga menghadirkan Pembawa acara Amanda Zevannya akan didampingi mentor Danton Sihombing yang juga CEO dan founder Inkara Brand Consulting akan memberikan banyak insight kepadanarasumber tersebut. (H-2)

Source : http://mediaindonesia.com

Writer : Retno Hemawati

Indonesia’s online retailer Bhinneka revises IPO plan, may go public in 2018

0

PT Bhinneka Mentari Dimensi, Indonesia’s oldest online retailer, has revised its initial public offering (IPO) plans and may go public as soon as next year, its CEO told this portal.

“We are looking at an IPO earlier than our announced target of 2020. We may look at 2018 and plan to raise not more than $100 million through the IPO,” said Bhinneka Mentari Dimensi CEO Hendrik Tio.

Earlier this year, the company had announced that it plans to sell 30 per cent of its shares in an IPO in 2020, and raise funds to expand its business.

“I think our brand is more recognized in Indonesia and it makes more sense to list here now soon. Next year, we may see many companies tap the IPO market. Maybe after we expand ourselves in other regions, we might think of a dual listing but we still haven’t confirmed our plans yet,” Tio told this portal in an exclusive interaction.

Bhinneka is an O2O (online to offline) e-commerce startup specialising in computers and IT products, communications goods, and consumer electronics. The O2O model allows users to buy online and choose to either get their goods delivered to their homes or pick them up from physical kiosks.

Tio co-founded the startup 23 years ago in a small rented home in Jakarta with a team of 12. The Indonesian firm then started creating an offline store network in 2004 and today sells through both its website Bhinneka.com and physical retail stores. Its last known funding round was in November 2015 when it raised Rp 300 billion ($22 million) from local venture capital firm Ideosource.

The e-commerce firm had initially targeted to go public in 2018 but later deferred its plan to 2020.

Bhinneka claims to cater to over 390,000 visits from the end-consumers but is largely focused on its business-to-business (B2B) model where it sells to small and medium enterprises, ministries and provincial governments. Its corporate customers contribute almost 75 per cent to its revenues, and the company is planning to add more services for its corporate clients.

Bhinneka is present in 32 cities across Indonesia and its expansion plans include a special focus on the island of Java. The company claims to be profitable and is looking at high double-digit growth in the next two year, Tio said.

Outside of China and India, Indonesia is the hottest e-commerce market in Asia; it is expected to grow from $8 billion in 2016 to $65 billion by 2020. Today, the strongest-funded e-commerce player in the country is Tokopedia, backed by Chinese tech giant Alibaba which invested $1 billion in the company this year.

Indonesia saw its first ever startup go public this year as O2O e-commerce firm Kioson raised 45 billion rupiah ($3.3 million) by selling 150 million shares. Its offering was oversubscribed more than 10 times.

Next to follow suit was PT M Cash Integrasi (MCI), the digital kiosk firm, that raised $22 million in its IPO. Owned by publicly-listed investment firm Kresna Graha Investama, MCI saw private equity firm PAG Asia Capital and Maybank Asset Management among its anchor investors. These two IPOs are seen as paving the way for more tech startups to consider a listing on the local bourse.

Source: Deal Street Asia

Writer: Aastha Maheshwari

Bekraf & Ideosource will Launch Ideosource Film Fund (IFF) To Finance The Indonesian Film Industry

0

Jakarta, October 27th 2017 – As stated by MPAA, Indonesia ranked 15th in the top 20 International Box Office market, after Spain and the Netherlands. The Indonesia Film Industry has generated over $300 Million of revenues for Hollywood.

Top 20 International Office Markets
1
Source: MPAA, Ideosource

Indonesian film has hit its stride with a number of local films widely received an audience acceptance and financial success, including Warkop DKI Reborn, Cek Toko Sebelah, Ada Apa Dengan Cinta 2 and recent Pengabdi Setan. In 2016 alone, from the top 15 movies, Indonesia reached its highest rating of 30 Million viewership.

Top 15 Movies between 2007-2017
2
Source: FilmIndonesia.or.id, Ideosource

BEKRAF (Indonesian Agency for Creative Economy) initiated Akatara – Indonesian Film Financing Forum that is going to be held on November 15th and 16th to connect local movie makers with investors.

“We realized that access to financing is one of the most crucial factors for Indonesian movie industry. We are organizing Akatara to give a chance for filmmakers and match them with investors” as stated by Fadjar Hutomo, Bekraf’s Deputy for Access to Capital.

This program encourages the Ideosource Film Fund (IFF) to take shape. It is a wise move for investors to spread the risk by backing a slate of several films, rather than betting on a single film that may flop.

“Indonesian film production mainly focus on production budget and some producers allocate less budget for the marketing. This is where movie makers will get values from our fund, as a numerous amount of budget will be dedicated to marketing, as well as production” says Andi Boediman, Managing Partner of Ideosource Venture Capital.

The investment would be done across movie industry value chain on an equity basis in each film – Investors will get value from IFF’ ownership of all available revenue rights on each project, as well as investment in the supporting ecosystem including but not limited to IP owners, channel & distribution, marketing, licensing and ticketing companies.

Indonesia Movie Industry Value Chain
3
Source: Ideosource

Brochure is available for download – click here

TuringSense, Wearable Sports Technology Start-up, Raises $3M in Seed Funding

0

Source : Reuters

TuringSense, Wearable Sports Technology Start-up, Raises $3M in Seed Funding
Investors Hail From Angel Plus, China Rock Capital, Ideosource and More

CAMPBELL, CA–(Marketwired – Nov 18, 2015) – TuringSense, a Silicon Valley pioneer of wearable sports technology, announced today that it completed a $3 million round of seed funding. Participating in the round were Angel Plus, ChinaRock Capital, Ideosource, SV Tech Ventures, Zen Water Capital, along with several serial entrepreneurs and angel investors.

“Being able to attract such prestigious investors is recognition of the large market potential of our cutting-edge wearable technology with its innovative multi-sensor, high-speed full-body motion analysis,” said Limin He, co-founder and CEO of TuringSense. “This funding gives us the financial strength to advance our goals of revolutionizing the way sports are played, practiced, and coached by transforming training methods that enable athletes to optimize technique and prevent injuries.”

TuringSense will leverage the funds to aggressively expand R&D, marketing and sales in support of the launch of its first product, PIVOT, the most advanced wearable technology for tennis today. The current funding round will also enable TuringSense to further development of solutions for a wide range of other potential markets such as other sport, physical therapy, insurance compliance, rehabilitation, posture correction and virtual reality/augmented reality and gaming.

“With the current strong growth in the wearables market around the world, we believe the potential for TuringSense’s pioneering technology is unlimited,” said Xitai Sheng, general partner at Angel Plus. “In addition to tennis, which is hugely popular and growing in China, their technology opens up a whole new world of potential target markets not possible with current wearable products — such as golf, healthcare and gaming. And through our smart device incubator, A+Labs, we’ll offer a full package of production service to TuringSense.”

“In our due diligence for this round of funding, TuringSense is a perfect investment for us,” said Jun Li, general partner at China Rock and SV Tech. “We found in TuringSense a team of world-class engineers and top athletes bringing stunning wearable technology to market. We saw the team’s strong passion and background in technology and sports, and believed that tennis was a great beachhead, go-to-market strategy.”

TuringSense is developing wearable technologies using biomechanics, sensors and artificial intelligence (AI) to help athletes learn and master complex movements, avoid injuries and conquer the competition.

The company was founded by serial entrepreneurs and seasoned leaders who are also technologists and advanced athletes. The co-founders are: Dr. Limin He, CEO, a serial entrepreneur and mathematical genius; Chris Lim (aka Taufik Arifin), VP of Product and Marketing, a technologist and advanced taekwondo practitioner; and Dr. Joseph Chamdani, CTO and VP of R&D, a technology system innovator and holder of 46 US patents, and a college level tennis player (level 5.5).

“We see TuringSense’s innovative solution having great potential in the Internet of Things (IoT), remote coaching, healthcare, and industrial services. Especially here in Asia where the sport and health markets are large and growing,” said Andi Boediman, managing partner of Ideosource. “Also, TuringSense’s great initial entrance with its tennis application illuminates the company’s overall vision of expanding to other sports and VR/AR gaming. TuringSense has the capability to tap into the Asian game development community, which has been a substantial driver in supporting gaming companies around the world.”

TuringSense will fully launch and open pre-orders for the product on Kickstarter in December 2015. For updates, please check the company website at www.turingsense.com.

Source : Reuters

downloadfilmterbaru.xyz nomortogel.xyz malayporntube.xyz